Korupsi Dan Narkoba Adalah Musuh Bersama Negara Ini

Iklan Semua Halaman

Korupsi Dan Narkoba Adalah Musuh Bersama Negara Ini

Ananta Gultom
16.8.16
Bangga sekali menjadi bagian dari bangsa ini. Walaupun kita tidak merasakan pahit getirnya penindasan penjajahan, tetapi sejarah telah mencatatkan bahwa Kemerdekaan bangsa ini tidak didapat dengan mudah.  Kemerdekaan bangsa ini didapat dengan pengorbanan jiwa, raga, darah dan air mata.

Pada perang Kemerdekaan, walaupun kita hanya bersenjatakan bambu runcing kita bisa mengalahkan Bangsa penjajah yang bersenjata lengkap, modern dan mengenal strategi perang.

Kita dapat mengalahkan mereka karena kita bersatu untuk merdeka dan melepaskan diri dari belenggu penjajah. Bersatu dalam dalam tekad dan semangat.

Pelajaran Perang merebut Kemerdekaan dari tangan penjajah dahulu mestinya dapat kita ambil untuk menghadapi "Penjajahan" modern yang sekarang membelenggu negeri ini, yaitu Korupsi dan Narkoba.

Korupsi dan Narkoba sudah meluluhlantakan negeri ini, kasus korupsi banyak melibatkan penyelenggara negara, sepertinya susah sekali dienyahkan dari negeri ini. Sama susahnya ketika kita menghadapi penjajah yang bersenjata lengkap dan modern, yang dihadapi dengan bambu runcing. Namun kita tidak boleh berpandangan pesimis dan menyerah.

Diusianya yang tidak muda lagi, negeri ini semakin dewasa, dewasa dalam berpikir, dewasa dalam bersatu, dewasa dalam bersikap bahwa Korupsi dan Narkoba akan membawa negeri ini dalan kehancuran. Dan yakin bahwa Korupsi dan Narkoba pasti dapat kita lawan.

Hari Kemerdekaan ini hendaknya dapat dijadikan sebagai momentum yang paling baik untuk melepaskan diri dari "Penjajah" yang bernama Korupsi dan Narkoba.

Korupsi dan Narkoba adalah musuh bersama negeri ini.

Dahulu penjajah Kolonial Belanda maupun Jepang dapat kita kalahkan walaupun kita hanya bersenjatakan bambu runcing, karena kita menyatakan bahwa mereka adalah musuh bersama. Dari ujung barat Sabang sampai ujung timur Merauke musuh kita adalah sama.

Dalam perlawanan mengahadapi penjajahan kolonial Belanda maupun Jepang, kita juga tidak kurangnya menemui hambatan yang datang dari dalam negeri, yaitu anak negeri yang menjadi pengkianat, yang memihak pada penjajah tersebut.

Akan tetapi dengan menyatakan bahwa merekapun adalah musuh kita, maka mereka pun dapat kita kalahkan. Pengkihanat itu “musuh” yang lebih sulit kita kalahkan, karena mereka sama warna kulit, sama bahasa, sama paras wajah.

Walaupun sama warna kulit, sama bahasa, sama paras wajah, merekapun dapat dapat dengan mudah kita kenali dengan tindakan dan tingkah laku mereka.

Kita dapat mengenali perilaku mereka yang bersuka ria dengan “Penjajah” dan bahasa yang menyuarakan pembelaan kepada “Penjajah”.

Dan kalau kita sudah kenali mereka dengan perilaku yang demikian, maka tindakan atau hukuman yang paling pantas untuk “pengkhianat” adalah sama dengan penjajahnya sendiri yaitu "MATI"

Semangat untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan yang pernah kita miliki, hendaknya kita pakai juga untuk mengusir “penjajahan modern” yang disebut Korupsi dan Narkoba.

Melawan Korupsi dan Narkoba bukan hanya tugas Aparat Hukum saja, tetapi melawan Korupsi dan Narkoba adalah tugas dan kewajiban seluruh anak negeri.

Mari kita bersatupadu dalam semangat dan tekad untuk mengusirnya dari negeri ini. “Mengkampanyekan bahwa Korupsi dan Narkoba adalah musuh bersama negeri ini”. dan mereka yang membela Koruptor dan membela kasus Korupsi adalah "pengkhianat bangsa”. Juga bagi mereka yang membela kasus Narkoba adalah pengkhianat bangsa.

Kita tuntut keseriusan pemimpin negeri ini untuk gencar bersama kita menyuarakan bahwa Korupsi dan Narkoba adalah musuh bersama bangsa ini, mari bebaskan negeri ini dari penjajahan modern yang lebih sadis, yang menggerogoti sumsum anak negeri.

Selamatkan negeri ini.......!     Selamatkan Putra Putri bangsa ini......!

Jangan biarkan pengkhianat itu mencari alasan untuk tetap melindungi pada Koruptor dan Gembong Narkoba.

Mari kita terus bunyikan genderang perang ke seluruh negeri, yang mengumandangkan bahwa,

“Korupsi dan Narkoba adalah musuh bersama negeri ini”.

Genderang perang baru bisa berhenti apabila negeri kita sudah bebas dari Korupsi dan Narkoba, untuk kemudian berganti dengan pekikan.

Merdeka...!    Merdeka...!  Merdeka...!





{Penulis : Capt. R. Jumadi M. Mar.}